Hampir 2 bulan, saya mempunyai pengalaman yang saya yakin pasti akan menjadi cerita bagi generasi kelak. Cerita ini berawal saat saya tidak bisa menerima yang diberikan Allah kepada saya. Ada 1 keinginan dalam hidup saya yang belum tercapai sampai saat ini.

Pada saat itu, saya benar-benar tidak bisa menerima kenyataan bahwa saya harus kalah lagi dalam perjuangan hidup untuk mencapai keinginan saya. Semua kata-kata bijak tidak bisa menghibur saya saat itu seperti contohnya : Allah tahu yang terbaik bagi kita, Semua pasti ada hikmahnya dll. Padahal sebulan sebelum itu, Allah baru saja memberikan rejeki berupa terkabulnya doa yang saya panjatkan pada Allah di 3 makam Wali. Saat itu saya merasa diangkat Allah ke derajat yang lebih tinggi dari sebelumnya tapi setelah itu dihempaskan dengan seluruh kekuatan yang ada di bumi agar saya hancur berkeping-keping. Akhirnya, saya benar-benar menjadi orang yang TIDAK BISA NERIMO APA ADANYA. Hari-hari yang saya lalui benar-benar menyesakkan hati saya. Saya tahu bahwa saya punya penyakit hati saat itu. Tetap saja saya belum bisa sembuh. Lalu saya teringat seseorang yang selalu saya jadikan teladan dan sekaligus saya jadikan guru dalam kehidupan saya. Beliau pernah bilang pada saya “Semua yang terjadi pada kita adalah Proses kita untuk belajar. Manis ataupun pahit kita harus bisa terima karena Suatu saat kita akan menjadi orang tua yang akan membimbing anak-anak kita. Ambillah pelajaran yang diberikan Kupu-kupu. Pada saat dia menjadi Ulat yang berbulu, semua orang menjauhinya karena takut Jijik dan gatal. Setelah itu apa yang terjadi, Ulat tersebut bertapa didalam kepompongnya untuk memperbaiki dirinya sendiri dan pada saat dia bangkit, berubahlah dia menjadi seekor kupu-kupu yang mempunyai Warna-warna indah maka semua orang akan menganggap kupu-kupu itu bagian dari keindahan dunia.

Filosofinya adalah Ulat yang berbulu, kita anggap diri kita yang sedang terbentur masalah. Kepompong adalah tempat atau waktu bagi kita untuk merenungi apa saja untuk bisa kembali bangkit menghadapi kehidupan ini. Kupu-kupu adalah diri kita yang sudah mengalami transformasi pikiran dan jiwa untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Warna-warna yang indah adalah representasi dari permasalahan yang sudah pernah kita alami di dalam kehidupan ini untuk diceritakan kembali pada anak cucu kita kelak.

Beriring jalannya waktu dan jawaban yang saya terima yang selalu berujung pada satu hal bahwa REJEKI, MATI DAN JODOH adalah hak Allah sepenuhnya. Dari situlah kita tidak boleh berusaha untuk menyangkalnya. Di dunia ini sudah ada yang mengatur, hal itulah yang harus kita yakini. Saya pernah “jatuh” untuk kali ini tapi saya akan berusaha untuk bangkit lagi. Hal terhebat adalah bukan pada “Kesakitan” saat kita jatuh tapi perjuangan untuk bisa “bangkit kembalilah” yang membuat kita menjadi hebat. Jadi janganlah pernah menyerah untuk bangkit kembali.

Tulisan ini adalah BUKAN karangan tapi pernah saya alami sendiri.

Kemarin adalah Sejarah, Esok adalah Misteri dan Hari ini adalah Anugerah.

JADI JANGANLAH KITA SIA-SIAKAN. HIDUP INI SUDAH TERLAMPAU SULIT UNTUK DIJALANI MAKA JANGANLAH KITA PERSULIT LAGI DENGAN SEBUAH PENYESALAN KARENA KITA TIDAK BISA MENERIMA KENYATAAN.

In Hermitage

Budi